Selasa, 22 Juni 2010

beranda: semalam di UGD

beranda: semalam di UGD

Isi paragraf tampilIsi paragraf tersembunyi Readmore.....

Selasa, 17 November 2009

Hujan Telah Tiba


Tik..Tik..Tik..

Dalam kesendirianku, aku rasakan bunyi gemericik bulir bening dari langit..

Menyejukkan hati, menyegarkan pikiran..

Aroma bau tanah yang sudah lama tak tercium saat musim kemarau yang lalu..Kini, kembali menyeruak dalam lubang hidung

Begitu damai aku rasakan udara dingin yang menyapu seluruh permukaan kulitku..

Ehmm... sungguh nikmat yang tiada tara..

Hujan telah tiba dengan segenap harapan...

Berangan-angan dengan kenangan semasa kecil..

Berlari-larian di tengah guyuran hujan yang deras,

Atau berbasah-basahan saat pulang sekolah dengan teman-teman sambil mencangking sepatu yang sudah terbungkus plastik..

Bersepeda dengan penuh canda tawa, meskipun akan mendapat murka ibu saat tiba di rumah..


Tapi, aku tak ingin kesenanganku dibatasi..aku tidak neko-neko..

Hanya ingin bermain-main di tengah derasnya hujan..hanya itu saja..

Tak ada alasan untuk mengkhawatirkanku..

Hujan itu indah.. hujan itu menyegarkan..

Lihat saja para petani, mereka akan sangat sedih jika tak sebulirpun air turun membasahi ladang mereka.

Padi-padi akan lekas menguning dan mati..

Hujan sebagai sumber kehidupan mereka...

Nikmatilah anugerah terindah ini..karena hujan adalah ciptaan Illahi buat semua umatnya....



* Menanti derasnya hujan yang sudah lama dinantikan...


Readmore.....

Senin, 16 November 2009

Cerpen Bagus Karya Putu Wijaya

Laila

Menangis tidak selamanya tanda kelemahan. Tapi istri saya tidak bisa menafsirkan lain, ketika melihat kucur air mata Laila.
”Ada apa lagi Laila,” tanya istri saya. ”Kok nangis seperti sinetron, kapan habisnya?”
Tangis Laila bukannya berhenti, malah tambah menjadi-jadi. Saya cepat memberi kode rahasia supaya interogasi itu jangan dilanjutkan. Besar kemungkinan, itu taktik minta gaji naik.
”Laila itu bukan jenis pembantu murahan yang mata duitan. Dia orang Jawa yang tahu diri, memangnya kamu!” bentak istri saya, sambil menarik Laila bicara empat mata.
”Dia punya konflik,” kata istri saya kemudian. ”Suaminya kurang ajar. Masak memaksa Laila banting tulang, tapi dianya ngurus anak ogah! Primitif banget! Laki-laki apa itu? Giliran anaknya kena DB dibiarin saja. Coba kalau sampai mati bagaimana? Pasti si Laila lagi yang disalahin! Memangnya perempuan WC untuk nampung kotoran?!”
”Terlalu!”
”Sekarang si Romeo nyuruh Laila berhenti lagi!”
”Berhenti?”
”Ya! Apa nggak gila?! Kalau Laila tidak kerja mau ngasih makan apa si Arjuna?”
”Kali Laila dapat kerjaan baru.”
”Mana ada orang mau menerima pembantu yang tiap sebentar pulang, karena anaknya nangis!”
”Jadi Laila akan berhenti?”
”Tidak! Biar Laila bawa Arjuna kemari, jadi kerjanya tenang.”
”Boleh sama si Romeo?”
”Memang itu yang dia mau!”
Saya menarik nafas. Sejak itu, Arjuna yang baru lima tahun itu jadi bagian dari rumah kami. Kalau dia nangis, sementara ibunya memasak, sedangkan istri saya sibuk, itu tanggung jawab saya.
Mula-mula berat. Tapi kemudian terjalin persahabatan indah antara saya dan Arjuna. Saya bahkan merasa tersanjung ketika Arjuna memanggil saya Pakde.
Sudah 11 tahun saya dan istri merindukan anak. Kami sudah capek menjalani nasehat dokter. Akhirnya kami ambil kesimpulan, tugas manusia memang beda-beda. Kami mungkin bukan mesin reproduksi manusia.
Kehadiran Arjuna membuat rumah berubah. Kelucuan bahkan kebandelan Arjuna menyulap tiap hari jadi beda. Sampai-sampai istri saya memanggilnya si Buah Hati.
Tapi pulang dari mudik, saya terkejut. Di dapur terdengar suara ketawa beberapa orang anak. Ternyata di situ ada lima bocah hampir seusia Arjuna sedang main petak umpet. Mereka sama sekali tidak takut oleh kehadiran saya.
”Itu anak-anak pembantu-pembantu sebelah.”
”O ya?”
”Ya, orangtuanya juga sibuk kerja, jadi anaknya tidak ada yang ngurus. Daripada mereka jadi gelandangan atau korban narkoba, aku suruh saja main di sini nemani si Buah Hati,” kata istri saya.
Mula-mula saya keberatan. Satu anak tertawa dalam rumah, memang lucu. Tapi enam orang, saya akan kehilangan privasi.
Ketika saya sedang bekerja di meja, semuanya seliwar-seliwer di depan pintu. Kalau saya menoleh mereka mencelup. Punggung saya terasa gatal ditancapi tatapan. Saya kira mereka mulai kurang-ajar.
”Kamu frustrasi!” komentar istri saya sambil tertawa,
”Persis!”
”Karena kamu kurang peka!”
Saya berpikir. Istri saya terus ketawa.
”Kamu tidak peka. Anak-anak itu tahu kamu baru kembali dari mudik. Mereka menunggu.”
”Menunggu apa?”
”Biasanya kalau pulang mudik orang bawa oleh-oleh.”
”Aku bawa untuk Arjuna, bukan untuk mereka!”
”Mereka semua anak-anak. Kamu harus berikan sesuatu kepada semuanya.”
Istri saya mengulurkan sebuah kantung plastik yang penuh coklat.
”Bagikan ini pada mereka!”
Saya takjub, tapi tak bisa menolak.
Sejak peristiwa itu, rumah saya seperti penitipan anak. Kerap ibu-ibu tetangga karena keperluan yang mendesak menitipkan anak di rumah kami. Anaknya pun senang bahkan mereka menganjurkan agar dirinya dititipkan.
Untung saya cepat membiasakan diri. Apalagi keadaan itu membuat gengsi kami naik. Istri saya menjadi popular. Saya sering dipuji sebagai lelaki sejati.

Tetapi kemudian Laila kembali menangis.
”Si Romeo bertingkah lagi!” umpat istri saya setelah mengusut Laila, ”bayangkan, masak dia minta dibelikan motor!”
”Motor? Emang mau ngojek.”
”Boro-boro ngojek, naik motor juga nabrak melulu!”
”Terus untuk apa?”
”Menurut Laila itu mau disewakan Romeo pada tukang ojek. Laila minta gajinya setengah tahun di bayar di muka.”
”Kamu tolak kan?!”
”Gimana ditolak? Laila diancam akan digebukin kalau tidak berhasil.”
Saya jadi penasaran. Lalu saya mencecer Laila.
”Laila, cinta itu tidak buta. Kalau suami kamu terus dituruti, kepala kamu bisa diinjaknya. Suami pengangguran yang mengancam dibelikan motor oleh istri itu bukan saja menginjak, tapi itu sudah explotation de l’home par l’home tahu?!”
”Ya Pak.”
”Kamu mengerti?”
”Mengerti, Pak.”
”Suami yang baik boleh dihormati, tapi yang jahat tendang!”
Laila tunduk dan mulai menangis.
”Kamu kok cinta mati sama si Romeo, kenapa? Jangan-jangan kamu sudah kena pelet!”
”Saya hanya mau berbakti kepada suami, Pak!”
”Itu bukan berbakti, tapi sudah bunuh diri!”
”Orangtua saya selalu berpesan, suami itu guru, Pak. Kata Ibu saya, tidak boleh membantah kata suami, nanti tidak bisa masuk surga!”
”Tapi kelakuan si Romeo kamu itu sudah melanggar HAM!”
Laila menunduk dan meneruskan menangis. Hanya motor yang bisa menyetop air matanya. Terpaksa saya mondar-mandir ke sana ke mari untuk mencari info motor bekas. Beruntunglah salah satu satpam bangkrut karena kalah berjudi. Dia jual murah motornya. Langsung saya bayar, daripada kehilangan Laila.
”Ah?! Ngapain mesti peduli semua permintaan Laila,” kata istri saya marah-marah, ”Kalau kamu manjakan dia begitu, sebentar lagi dia akan menginjak kepala kita! Pembantu itu jangan dikasih hati. Kalau dia mau berhenti, biarin. Kita cari yang lain!”
Tapi kemudian istri saya sendiri yang menyerahkan kunci motor bekas itu kepada Laila.
”Ini motornya, Laila. Cicil berapa saja tiap bulan, asal kamu jangan keluar!”
Laila mencium tangan istri saya dengan terharu. Saya juga mendapat perlakuan manis. Laila kelihatan sangat bahagia. Sambil nyuci ia menyenandungkan lagu Nike Ardila.
Tapi itu hanya berlangsung sebulan.
”Si Romeo itu memang kurang ajar!” teriak istri saya kemudian, ”Motor sudah digadaikan lagi, katanya nggak ada yang doyan nyewa motor bekas!”
Saya bengong. Dengan mata berkaca-kaca Laila minta maaf. Katanya, suaminya diancam akan dibunuh kalau tidak melunasi hutangnya setelah kalah taruhan bola.
Istri saya mencak-mencak. Tapi kemudian ia mendesak saya menebus motor itu dengan janji, Romeo dilarang menyentuhnya.
”Kamu saja yang boleh naik motor itu Laila! Yang lain-lain, haram!”
Sejak itu Laila masuk kerja menunggang motor. Mobilitasnya lebih rapih. Dia selalu datang tepat waktu. Anaknya bangga sekali duduk di boncengan. Meski para pembantu lain keki, menganggap nasib Laila terlalu bagus, tidak kami pedulikan. Yang penting, Laila tetap setia di posnya.
”PRT seperti Laila memang perlu punya motor, supaya tenaganya tidak terkuras di jalanan. Motor itu bukan untuk dia, tetapi untuk kepentingan kami juga,” kata istri saya kepada ibu-ibu tetangga.
Tak terduga argumen itu patah, ketika pada suatu hari Laila muncul tanpa motor. Hari pertama saya diam saja. Pada hari ketiga saya tidak kuat melihat dia pulang menggendong Arjuna sambil menenteng tas besar.
”Motor kamu mana, Laila?”
”Dipakai saudara misan saya, si Neli, Pak.”
”Kenapa?”
”Kerjanya lebih jauh, Pak.”
”Kenapa dia tidak naik angkot saja?”
”Nggak boleh sama suami saya, Pak.”
Saya bingung. Kemudian saya baru tahu, Neli saudara misan Laila sekarang tinggal bersama Laila satu rumah.
”Itu motor kamu Laila, tidak boleh dipakai orang lain!”
”Tapi suami saya bilang begitu, Pak. Saya harus mengalah sebab di pabrik tempat Neli kerja aturannya keras. Kalau datang telat bisa dipecat.”
”Kamu juga harus tepat waktu sampai di sini, Laila!”
”Betul, Pak.”
”Ambil motor itu kembali!!!!!!”
Besoknya Laila masuk kerja tepat waktu. Tapi dia naik ojek. Saya marah.
”Maksudku kamu tidak hanya datang tepat waktu, tapi harus pakai motor kamu! Kalau kamu datang ke mari naik ojek, lebih baik jangan kerja!”
Laila bingung. Dia tidak mengerti apa maksud saya. Istri saya mencoba menjelaskan. Tapi bukan menjelaskan kepada Laila, dia justru menerangkan kepada saya.
”Laila tidak berani minta motor itu karena takut digampar si Romeo.”
Saya bingung.
”Kenapa bangsat itu malah ngurus misannya, bukan istrinya?”
”Sebab misan Laila itu perempuan !”
”Gila! Istrinya juga perempuan!”
”Tapi perempuan itu lebih muda! Dan Romeo sudah mau menikahi si Neli!”
Saya megap-megap.
”Ya Tuhan! Kenapa Laila nerima saja dikadalin begitu?
Istri saya hanya mengangguk.
”Sekarang memang banyak orang gila!”
Langsung saya interogasi Laila di dapur.
”Kenapa kamu terus mengalah Laila? Suami kamu sudah kurang ajar. Jangankan mau menikahi misanmu, mengancam kamu membelikan pacarnya motor saja, sudah zolim! Kenapa?”
Laila tak menjawab.
”Kamu takut? Kalau perlu aku bantu kamu mengadu kepada LBH. Orang macam Romeo itu, maaf, bajingan. Dia harus dihajar supaya menghormati perempuan!”
Laila diam saja.
”Itu namanya kamu sudah kena pelet! Kamu yang cantik begini pantasnya sudah lama menendang Romeo. Apa kamu tidak sadar?!”
”Ya, Pak.”
”Kalau sadar kenapa tidak bertindak?”
”Saya ingin berbakti pada suami, Pak!”
”Itu bukan berbakti, tapi menghamba! Diperbudak! Dijadikan kambing congek si Romeo asu itu, tahu!?”
”Ya, Pak!”
”Ya apa?”
”Kata orangtua saya, sebagai istri saya mesti menghormati suami, saya tidak boleh membantah kata suami. Hanya orang yang baik dan sabar yang akan bisa masuk surga.”
”Kalau orangtua kamu masih hidup, dia tidak akan rela kamu disiksa begini?! Kamu ini cantik Laila!”
Mendengar dua kali menyebut kata cantik, istri saya muncul. Saya diberi isyarat supaya minggir. Lalu dia bicara dari hati ke hati dengan Laila. Entah apa yang mereka bicarakan. Tapi kemudian saya lihat dari jauh, Laila menghapus air matanya.
”Kita tidak bisa kehilangan Laila,” kata istri saya kemudian.
”Lho, memangnya dia minta berhenti?”
”Dia tidak bisa merebut motor itu dari si Neli.”
”Tapi itu kan haknya!”
”Kita tidak bisa memaksakan jalan pikiran kita ke otaknya. Tidak. Pokoknya tidak bisa.”
”Harus! Kita berkewajibkan mengajarkan dia berpikir logis!”
”Kalau terlalu didesak, bisa-bisa dia minta berhenti.”
”O ya, Laila bilang begitu?”
”Dia tidak bilang begitu, tapi pasti akan begitu.”
”Kenapa dia begitu ketakutan?”
”Sebab Neli sudah dikawini Romeo!”
Saya terpesona. Lama saya mencoba menghayati bagaimana perempuan yang secantik Laila bisa dikuasai Romeo tak beradab itu. Saya tak akan pernah bisa mengerti.
Sementara terus-terang, kami sangat bergantung pada Laila. Kalau dia tidak ada, rumah akan berantakan.
”Kita tidak mungkin kehilangan Laila,” kata istri saya.
”Tapi dia tidak boleh dibiarkan masuk kerja terlambat terus.”
”Karena itu dia harus punya motor!”
Saya tak menjawab. Istri saya yang harus menjawab. Jawabannya agak tidak masuk akal. Laila dibelikan motor baru. Laila tersenyum sambil meneteskan air mata haru mendengar keputusan itu. Arjuna juga tertawa.
Motor kedua Laila langsung dari dealer. Bodinya mulus, suaranya halus dan tarikannya kuat. Laila dan Arjuna selalu datang tepat waktu. Saya dan istri puas, merasa keputusan kami tepat.
Tapi tak sampai satu bulan, tiba-tiba Laila muncul kembali dengan motor bututnya yang lama. Waktu kedatangannya memang tepat. Wajahnya juga tidak berubah. Ia tetap cantik dan ceria. Hanya Arjuna yang kelihatan rewel. Dan istri saya ngamuk.
Tidak pakai pendahuluan lagi, Laila langsung digebrak.
”Laila, Ibu sudah bosan bicara! Kalau kamu masih saja datang pakai motor busuk ini, tidak usah kembali! Pulang! Ibu beli motor baru untuk kamu dan Arjuna bukan untuk lelaki hidung belang itu! Kalau motor itu dipakai oleh orang lain, kamu berhenti saja kerja sekarang! Kembalikan motor kamu!”
Laila gemetar. Saya pun tersirap. Belum pernah istri saya marah seperti itu. Tanpa berani membantah lagi. Laila menaikkan lagi Arjuna yang sudah turun dari motor, lalu segera pergi. Saya lihat mukanya pucat pasi.
Saya kira perempuan itu tidak akan pernah kembali lagi. Tapi saya keliru. Besoknya, terdengar suara motor yang halus masuk ke halaman. Saya cepat keluar dan kaget melihat Laila dengan motor barunya. Arjuna tertawa senang. Laila mengangguk dan menyapa saya dengan sopan.
”Laila kembali, tapi mungkin untuk pamit pergi,” bisik saya.
Istri saya menjawab acuh tak acuh.
”Sudah waktunya dia menghargai dirinya sendiri!”
Hari berikutnya, seminggu, sebulan dan seterusnya, Laila tetap bekerja. Ia selalu datang tepat waktu. Lewat dengan anak dan motor baru, memasuki halaman rumah kami ia kelihatan tegar. Tidak pernah menangis lagi. Rupanya terapi kejut dari istri saya sudah membuatnya menjadi orang lain.
Tapi kalau diperhatikan ada sesuatu yang hilang. Laila tidak pernah lagi menggumamkan lagu Nike Ardila. Kadang-kadang dia termenung dan kelihatan hampa.
Ketika gajinya dinaikkan, Laila tersenyum, mencium tangan istri saya, tapi tidak lagi meneteskan air mata. Saya jadi penasaran.
”Laila, kenapa kamu kelihatan tidak terlalu gembira?”
”Saya gembira gaji saya dinaikkan Ibu, terima kasih, Pak.”
”Kamu naik motor mulus yang membuat iri orang-orang lain. Anak kamu senang dan sehat. Saya dengar saudara misan kamu sudah tidak di rumah kamu lagi. Suami kamu juga sudah tidak berani lagi memukul dan berbuat semena-mena. Betul?”
”Betuk, Pak.”
”Tapi kenapa kamu kelihatan susah?”
Laila menunduk.
”Kenapa kamu sedih?”
”Ya, Pak, karena sekarang saya tidak akan bisa masuk surga.”
Readmore.....

Jumat, 13 November 2009

Ayah..Anakmu Rindu ....

20 April 2006 menjadi hari yang tak pernah terlupakan olehku. Di hari itulah aku kehilangan sosok seorang ayah yang selama ini menjadi pelindungku.. Tubuhnya yang pendek tapi kekar itu selalu menyediakan ruang buatku untuk bersandar dan menumpahkan segala keluh kesahku. Cara ketawanya yang sangat khas di telingaku selalu menghiasi hari-hariku..Ayah, aku rindu semua yang ada padamu..
Kurang lebih setahun sebelum hari itu, terjadi musibah pada ayahku..Di pagi buta tiba-tiba beliau berteriak memanggil namaku, setelah aku lihat ternyata tubuh ayah sudah tidak berfungsi separo. Tiba-tiba kekuatan anggota gerak tubuhnya yang sebelah kanan menjadi lumpuh. Tahu hal itu, akupun menjadi panik. Lalu aku panggil seorang mantri desa. Dan sungguh di luar dugaan, ternyata ayahku terserang stroke. Sebenarnya ayah di suruh opname. Tapi ayah tidak mau. Dalam kondisi sakit seperti itu ayah masih memikirkan biaya. Beliau takut menyusahkan keluarganya bila harus opname. Akhirnya, kami pun mengalah dan memutuskan agar ayah dirawat jalan saja. Tentunya dengan pengobatan rutin dan terapi yang harus rutin juga untuk dijalani.
Sungguh, sejak saat itulah aku merasa kehilangan sesuatu yang berharga. Keceriaan ayah tidak pernah lagi kulihat. Bahkan 21 hari pasca serangan stroke itu ayah hanya bisa berbaring di tempat tidur. Untuk melakukan segala aktivitasnya ayah selalu memerlukan bantuan kami. Aku benar-benar tak tega melihat kondisi ayah seperti itu. Apalagi ingatan ayah sempat terganggu.. Bukan gila yang aku maksud disini, tapi beliau sempat lupa pada aku yang notabene adalah anaknya. Setiap kali aku menyuapinya untuk makan, aku selalu ditanya, “ kowe ki sapa???? “.. Astaghfirllah..ayah tak mengenaliku. Aku dan ibu hanya bisa bersabar merawat ayah. Setiap kai ibu berangkat bekerja, akulah yang menggantikan tugas ibu untuk merawat ayah. Syukurlah, hal itu tidak berlangsug lama. Lama-lama ingatan ayah mulai pulih, dan semangatnya mulai tumbuh lagi. Terapi pun dijalankan dengan rutin. Ayah mulai sudah bisa menggerakkan mulutnya yang sempat “perot” (kalau dalam bahasa Jawa). Beliau juga mulai sudah bisa menggerakkan jari jemarinya yang dulu kaku. Kaki dan tangannya sudah mulai pulih, meskipun serangan stroke itu tetap saja meninggalkan cacat pada ayahku. Beliau jalan dengan timpang. Sungguh, hatiku tak kuasa melihatnya.Namun, semangat ayah untuk bisa sembuh selalu menjadi cambuk bagi diriku sendiri. Di saat kondisi seperti itulah, rasa sayang ini pada ayah terlihat semakin nyata.
Kondisi ini berjalan selama lebih kurang 1 tahun. Selama ini ayah selalu memaksakan diri untuk membantu perekonomian keluarga. Sifat aslinya yang pekerja keras tak bisa tinggal diam melihat anak-istrinya yang bekerja. Beliau selalu menangis saat melihat kami mau berangkat kerja. Dalam hati, tanggungjawab ayah tak kan pernah putus meskipun sekarang beliau sudah tidak bisa bekerja seperti dulu lagi. Ayah selalu terbebani dengan pikiran bahwa kepala keluargalah yang seharusnya wajib mencari nafkah buat keluarga, bukan anak ataupun istrinya. Ayah, sungguh..aku sangat malu padamu.. Aku belum bisa membahagiakanmu, dan engkau sendiri dalam kondisi sakit seperti ini masih saja memikirkan kami.
Ayah benar-benar tidak mau tinggal diam. Setiap hari ayah membuat tahu dan tempe bacem untuk disetor-setorkan kepada tetangga yang jualan makanan. Dengan sisa-sisa tenaganya yang tak seberapa, ayah semangat mencari nafkah buat kami, meskipun itu hanya menjual tahu atau tempe bacem. Ayah, sungguh mulia hatimu.. Tak kan pernah lelah hati ini mengenangmu. Dengan berjalan tertatih, engkau setorkan dagangan itu ke tempat tetangga. Sungguh aku benar-benar tak tega.. tapi setiap kali aku berusaha membantumu, engkau selalu menolak, dan selau bilang kalo itu adalah tanggungjawabmu.
Kami sekeluarga cukup gembira dengan perkembangan ayah. Ayah tak lagi kambuh dan beliau bisa mengerjakan pekerjaan rumah tangga, meskipun sebenarnya aku dan ibu sudah melarangnya agar tidak melakukan pekerjaan itu. Tapi tetap saja ayah bersikeras. Setiap kali kami pulang kerja, kondisi rumah sudah rapi oleh sentuhan tangan ayah..Kami sangat berharap agar ayah bisa segera pulih total dan melakukan aktivitasnya kembali sebagai seorang kepala keluarga.
Namun, kebahagiaan kami tak berlangsung lama. Singkat cerita ayah kembali terserang stroke untuk yang kedua kalinya. Tiba-tiba ayah cegukan terus-menerus. Akhirnya ibu membawa ayah ke puskesmas. Sepulang kerja aku begitu kaget mendapati kamar ayah telah kosong. Lalu ada tetangga yang memberitahuku kalau ayah baru saja dibawa ke Puskesmas. Becak yang mengantar ayah dan ibu tadi disuruh balik menjemputku. Tak karuan perasaanku waktu itu, pikiranku sudah “ngalor-ngidul” ga karuan. Ya Allah, ada apa lagi dengan ayah???
Sesampainya di Puskesmas, aku begitu kaget melihat kondisi ayah yang sudah sangat parah..Mulutnya mulai “perot” lagi. Dan tanggannya sudah kaku terlipat di dada dan tidak mau diluruskan. Kontan saja aku langsung menangis. Ku lihat ayah juga menangis. Lalu dengan nada yang ga jelas beliau berkata padaku, “ Nduk, gek pak’e dikon mondok..” Aku mencoba membesarkan hati ayah, kalau ga bakaln terjadi apa-apa dengan beliau. Tapi tetap saja, dalam kondisi seperti itu ayah masih memikirkan biaya. Tidak berapa lama, para tetanggaku datang menjenguk. Kondisi ayah semakin parah saja. Akhirnya pukul 11.00 malam, dokter menyerah dan menyarankan agar ayah di rujuk ke Rumah sakit yang mempunyai peralatan medis yang lebih lengkap. Akhirnya ayah dirujuk ke RS. PKU Muhammadiyah Surakarta. Selama dalam perjalanan ayah selalu meneteskan air mata. Entah apa artinya semua itu. Apakah ayah menangis karena rasa sakit yang dirasakannya ataukah ayah menangis karena memikirkan nasib kami, dan ikut bersedih melihat kami menagis. Ayah langsung masuk ke ruang ICU. Aku hanya bisa melihat dari jendela kaca yang ada di sebelah ruangan ayah ketika para tenaga medis memasangkan beberapa alat yang aku sendiri tidak tahu apa itu namanya. Ada infus, alat monitor jantung, selang oksigen, kateter beserta urine bag nya.. Ah.., aku sungguh tak tega melihat tubuh ayah dibebani dengan berbagai alat seperti itu. Tak berapa lama, keluarga diijinkan untuk menunggu, tapi hanya untuk 1 orang. Akhirnya selama ayah dirawat di Rumah Sakit, aku dan ibulah yang gantian menunggu ayah. Hari pertama, kulihat ayah masih bisa membuka matanya. Dan kulihat pula beliau sering meneteskan air matanya. Sambil memandang iba ke arahku. Aku pun tak kuasa menahan jatuhnya bulir bening ini di kedua pipiku. Setiap kali tenaga medis menyuntikkan obat-obatan ke tubuh ayah, aku ikut merasakan nyeri di sekujur tubuhku. Aku ikut merasakan penderitaan ayah.
Hari berikutnya, kulihat tidak ada perubahan pada kondisi kesehatan ayah, bahkan semakin buruk. Mata ayah sudah tidak mau terbuka lagi. Aku semakin sedih melihat kondisi ayah seperti ini. Setiap kali aku yang menunggui beliau, selalu aku lantunkan ayat suci di dekat beliau. Sambil sesekali aku mengusap dadanya. Jika kuperlakukan seperti itu, ayah meneteskan air mata dalam kondisi mata tetap terpejam.Ya Allah, hamba tidak kuat melihat ayah menderita seperti ini. Saat ayah sakit, aku dan ibu terpaksa libur kerja. Aku tidak peduli apakah aku akan dikeluarkan dari pekerjaanku gara-gara aku sering bolos atau tidak. Tapi untunglah supervisorku memberikan dispensasi padaku. Setiap hari aku pantau perkembangan ayah, dan semakin hari bukannya semakin sembuh, tapi kondisi ayah semakin buruk. Pada hari ketiga, Ayah sempat muntah darah. Dan dokter bilang bahwa pembuluh darah di lambung dan otak ayah sudah pecah. Makanya ayah muntah darah dan mengeluarkan darah dari hidung.. Astaghfirullah..benar-benar sudah tidak ada harapan. Tapi selama aku melihat tubuh ayah yang terbujur lemah di atas ranjang besi itu, aku selalu berharap ada mu’jizat yang akan membawa kesembuhan buat ayah. Waktu itu tensi ayah mencapai 220/160 mmHg.. sungguh di atas tensi normal. Aku juga heran kenapa ayah masih bisa bertahan dengan tekanan darah yang begitu tinggi. Atau kah karena ayah masih semangat untuk bisa sembuh??? Aku tidak tahu pasti, yang jelas saat itu aku hanya berharap agar Allah memberikan yang terbaik buat ayah.
Hari berikutnya, yang tak pernah aku sangka kalau itu hari terakhir aku bertemu dengan ayah. Kondisi ayah sudah sangat buruk. Bahkan saat para perawat melintas di dekatku, mereka selalu bilang, “ yang sabar ya mbak.. doakan aj yang terbaik buat bapak..” Aku tidak tahu apakah arti dari ucapan mereka. Sampai akhirnya aku dengar saat dokter bilang kepada kami sekeluarga bahwa sudah tidak ada harapan lagi. Bahkan infus yang dimasukkan ke tubuh ayah pun sudah tidak dapat mengalir dengan lancar lagi. Akibatnya, tangan ayah bengkak. Kalaupun dipaksakan juga tidak ada gunanya. Akhirnya, setelah keluarga berunding, diputuskan bahwa tidak akan ada tindakan medis lagi buat ayah. Tubuhku terasa lemas sekali saat itu. Aku semakin tidak tega melihat kondisi ayah. Selalu kubisikkan Asma’ Allah di dekat telinga ayah, “Allah.. Allah..Allah...” Berharap agar ayah bisa selalu ingat Allah di saat-saat sulitnya. Sehari sebelumnya ayah masih berusaha menirukan ucapanku, meskipun dengan suara yang rancau dan sangat tidak jelas. Tapi sekarang, ayah cuma bisa meneteskan air mata sambil sedikit mengerang. Aku tak tahu apa arti erangan ayah itu. Anehnya, aku mulai mencium bau anyir di dalam kamar ayah. Entahlah, apakah itu ada hubungannya dengan ayah. Yang jelas bau itu sangat asing di hidungku. Siangnya, aku dan mbakku pulang untuk sekedar mengambil baju. Pas jam 12.00 aku mendapat telepon dari pamanku yang kebetulan saat itu juga menunggu ayah di Rumah sakit. Aku disuruh segera balik ke Rumah sakit, tanpa memberikan keterangan apapun. Hatiku berdebar-debar tidak karuan. Lalu dengan memacu sepeda motornya, mbakku ngebut berusaha biar segera sampai di Rumah sakit. Aku bertanya-tanya apa yang terjadi pada ayah. Sempat aku berpikir bahwa ayah.....??? (Ah, tak sanggup aku membayangkan hal ini..)
Benar saja dugaan yang belum sempat aku utarakan tadi, sesampainya di Rumah Sakit aku disambut oleh tangisan ibu. Aku sudah bisa menebak apa yang terjadi. Tanpa menghiraukan keluargaku yang ada di luar kamar, aku langsung masuk ke kamar ayah. Ternyata ayah sudah dipindahkan ke ruangan lain. Aku dekati tubuh ayah yang sudah terbujur tertutup selimut rumah sakit. Kubuka perlahan-lahan dan ku coba kuatkan hati untuk melihat jasad ayah. Aku lihat senyum damai di wajah ayah. Mungkin ayah sudah lega bisa melepaskan semua beban penderitaanya selama di dunia ini. Aku sentuh tubuh ayah, dan masih terasa hangat. Lalu aku kecup kening ayah sebagai penghormatan terakhirku pada beliau. Aku tak kuasa membendung air mata ini. Sambil terus menangis, aku peluk tubuh ayah..Tak berapa lama, mbakku menyusulku. Dia juga tak kalah sedihnya denganku. Dia menangis di tubuh ayah. Ya Allah, saat itu aku benar-benar tak percaya kalau ayah sudah tiada. Aku masih membutuhkannya. Aku masih ingin ditungguinya, tapi kenapa ayah malah pergi meninggalkan kami. Aku sangat sayang ayah.. Sampai sekarangpun aku tak percaya bila ayah sudah tidak ada. Ayah akan selalu ada di hatiku. Kharismanya akan selalu terpatri dalam ingatanku. Aku merindukanmu, Ayah...
Saat aku menikah, aku tak bisa menyembunyikan kesedihan. Tak kuasa kubendung air mata ini. Dulu, aku sangat ingin saat nikah aku bisa ditunggui oleh keluargaku, terutama ayah, ibu, dan nenek. Tapi sekarang kenyataanya lain. Tapi aku yakin ayah juga bisa merasakan kebahagiaanku saat itu. Seperti biasanya, saat aku dalam keadaan sedih, ayah selalu datang dalam mimpiku..Entahlah, aku sendiri juga bingung. Mungkin karena kekuatan kasih sayang kami.
Tiga tahun lebih ayah meninggalkan kami, tapi kenangan bersama ayah sepertinya masih segar dalam ingatanku. Sedih rasanya bila mengingat beliau. Kenapa Allah begitu cepat memanggil ayah, padahal aku masih membutuhkan beliau.. Tapi aku yakin bahwa semua ini adalah yang terbaik buat ayah.. Hanya do’a yang sanggup ananda berikan pada ayah.. Maafkan ananda yang belum sempat membalas jasa-jasa ayah.. Ananda merindukanmu, Ayah... Semoga engkau selalu damai di sisi Allah. Suatu saat nanti, kami pasti akan menyusulmu, Ayah..Semoga kelak kita sekeluarga bisa berkumpul dalam naungan surga Illahi..amin....
Readmore.....

Rabu, 11 November 2009

Manfaat Asam Jawa untuk Kesehatan

Asam jawa banyak digunakan sebagai bumbu masakan. Tak jarang juga digunakan sebagai bahan minuman yang dapat ditemukan pada penjual jamu. Nyatanya buah berbentuk polong dengan rasa asam itu memang memiliki khasiat yang luar biasa bagi tubuh.


Asam Jawa (Tamarindus indica) merupakan sebuah kultivar daerah tropis. Buah asam per 100 gram mengandung kalori sebesar 239 kal, protein 2,8 gram, lemak 0,6 gram, hidrat arang 62,5 gram, kalsium 74 miligram, fosfor 113 miligram, zat besi 0,6 miligram, vitamin A 30 SI, vitamin B1 0,34 miligram, dan vitamin C 2 milgram. Kulit bijinya mengandung phlobatannin dan bijinya mengandung albuminoid , serta pati.

Manfaat asam Jawa antara lain untuk menyembuhkan asma, menyembuhkan batuk, demam, reumatik (nyeri sendi), nyeri haid, alergi, sariawan dan menurunkan berat badan.

Berikut ini beberapa tips menggunakan asam jawa untuk pengobatan:

1. Untuk Anda yang menderita asma, rebuslah dua potong kulit asam jawa dan adas dengan 1 liter air sampai mendidih, kemudian disaring. Minum air rebusan dua kali sehari.

2. Untuk batuk kering, gunakan buah asam jawa sebanyak tiga polong dan setengah genggam daun saga. Kedua bahan tersebut direbus dengan empat gelas air hingga tinggal satu gelas, kemudian saring dan diminum dua kali sehari tiap pagi dan sore.

3. Jika anggota keluarga ada yang demam, jangan terburu-buru memberikan obat kimia. Cobalah dengan rebusan dari satu genggam daun asam jawa dan adas. Saring air rebusan dan minum dua kali sehari, pagi sore.

4. Untuk sakit perut ada beberapa pilihan resep.

Resep pertama, tiga polong buah asam jawa yang sudah masak dicampur dengan kapur sirih dan minyak kayu putih. Dicampur merata dan digunakan sebagai obat gosok terutama pada perut. Jika ingin ramuan minuman, seduh tiga polong buah asam jawa dengan satu potong gula aren.

5. Bisul juga bisa diobati dengan asam jawa.
Daging buah asam matang yang sudah diolah dan warnanya hitam, bukan coklat sebesar telur burung puyuh, direndam dalam 1 gelas air sehingga mengembang, lima iris temulawak yang dicuci dulu sebelum diiris, gula aren untuk pemanis. Semua dididihkan sehingga airnya tinggal setengah. Diminum satu kali sehari sampai sembuh.
Untuk ditempelkan, ambil asam kawak sebesar telur burung puyuh, sedikit garam dan sedikit minyak dicampur dan dilumatkan. Tempelkan ke bisul.

6. Gatal pada bekas luka yang sudah kering dapat diobati dengan asam kawak yang dilembapkan dengan air matang bersih, lalu digosokkan ke bekas luka yang gatal. Cara lain, satu sendok makan penuh daun asam, sepotong empu kunyit, dicuci, dilumatkan, ditempel ke bekas luka yang gatal.


Semoga bermanfaat...

Readmore.....

Tahukah engkau, Suamiku...???

Mungkin memang terlalu berlebihan jika aku menginginkan bisa segera memperoleh sang buah hati dalam usia pernikahanku yang masih sangat muda ini..Aku baru menikah tanggal 11 Agustus 2009 kemarin..tapi naluri keibuanku tak bisa membiarkan hatiku tenang selama aku belum mendapatkan apa yang aku inginkan..Dulu sebelum menikah, pikiranku tak bisa tenang sebelum aku mendapatkan “haid”..tapi sekarang, aku bisa-bisa menangis hanya karena aku masih saja “haid”. Memang sebuah kondisi yang bertolak belakang.

Setiap kali “tamu” bulananku datang, aku selalu mencoba menghibur diri dengan mengatakan, “Tidak apa-apa..mungkin Allah masih menyuruh kita untuk tetap bersabar..”. Tapi siapa yang mengira kalau hatiku benar- benar sedih..Sering aku menangis diam-diam tanpa sepengetahuan suamiku. Ada bermacam-macam perasaan bercampur aduk dalam pikiranku..Aku takut dicap “mandul”. Aku jadi teringat tentang perdebatanku dengan suamiku sebelum kami menikah dulu. Kami memperdebatkan soal poligami. Suamiku bilang kalau poligami itu sah-sah saja selama yang bersangkutan mampu, dan dibolehkan pula jika ada alasan yang kuat, salah satunya tidak mendapat keturunan dari istri pertama. Jika dalam kondisi seperti itu, suami diperbolehkan menikah lagi dan istri pertama mau tidak mau harus menyetujui. Berbeda dengan pendapatku, apapun alasannya, aku tetap tidak setuju dengan poligami. Sungguh sebuah sunnah Rasul yang amat sulit diterima oleh kaum hawa, meskipun ada jaminan surga bagi wanita yang mau dipoligami. Ya Allah, aku sungguh tak ingin hal itu terjadi padaku. Aku terlalu menyayangi suamiku, dan aku tidak rela jika harus berbagi dengan wanita lain. Aku tidak mau karena aku tidak bisa memberikan keturunan lantas suamiku meninggalkan aku. Aku berharap suatu saat aku bisa memberikan suamiku keturunan.

Sungguh sebuah beban yang sangat berat..Meski aku tahu, perjalanan pernikahanku ini belum seberapa. Masih banyak pasutri di luar sana yang lebih menderita dari kami. Banyak diantara mereka yang sudah menikah selama bertahun-tahun, tapi belum diberi keturunan. Sedangkan kami, baru saja kami mulai babak baru dalam kehidupan kami. Tapi apa salah jika aku sudah menginginkan punya “momongan”. Aku iri dengan teman-temanku yang sudah dipanggil “ibu, bunda, atau umi” oleh anak mereka.

Aku memang cuma wanita biasa yang gampang menitikkan air mata. Aku belum bisa tegar setegar batu karang yang berdiri kokoh di tengah terjangan ombak. Hatiku juga tidak terbuat dari batu sehingga aku bisa menahan segala “pukulan” yang berkecamuk dalam hatiku ini. Tapi aku hanyalah seorang wanita biasa yang bisa menangis dan merasakan sedih.

Buat suamiku, maafkan adik yang belum bisa mencontoh kesabaran mas selama ini. Mas selalu menjadi penyejuk dalam kehidupan adik. Mas selalu sabar dalam kondisi apapun, bahkan dalam kondisi sulit seperti yang mas alami sekarang ini. Satu hal yang paling adik kagumi dalam diri mas, yaitu “kesabaran”. Entah sampai kapan adik harus bisa belajar untuk lebih sabar.

Mungkin benar apa yang suamiku ucapkan, “Allah menganggap kita belum mampu untuk diberi kepercayaan dengan hadirnya sang buah hati”, tapi apakah engkau tahu suamiku, kalau aku sudah begitu mendambakan kehadiran “si kecil” di tengah-tengah keluarga kita? Si kecil yang akan mengusir setiap penat rasa lelah setelah seharian kita bekerja. Si kecil yang akan selalu membangunkan kita dengan tangisannya yang merdu saat ia merasa haus dan meminta susu. Si kecil yang akan selalu membuat kita tertawa melihat segala tingkah laku dia saat dia sudah mulai bisa diajak bercanda. Si kecil yang akan memanggilmu dengan sebutan “ayah” dan “ibu” buatku. Si kecil yang akan mendoakan kita saat kita sudah tua dan mungkin saat kita sudah menghadap Sang Khalik nanti. Aku begitu merindukan kehadiran sosok mungil itu, suamiku. Apakah engkau juga merasakan seperti apa yang aku rasakan ini?? Tapi entah sampai kapan kita harus menunggu, sementara setiap kali ada pertanyaan, “sudah telat berapa bulan?”, hatiku langsung seperti tersayat. Aku menangis dalam hati. Aku bukanlah sosok wanita yang tegar, suamiku.. Hatiku masih terlalu rapuh untuk mendengar semua pertanyaan itu. Ajari aku untuk bisa sabar sepertimu, suamiku. Ajari aku untuk bisa selalu tegar dalam menjalani hidup ini. Aku ingin menjadi batu karang yang kokoh. Bukan menjadi wanita yang cengeng. Aku selalu ingin menjadi wanita satu-satunya yang ada di hati kamu, dan berharap tidak akan pernah ada wanita lain yang mengusik kehidupan rumah tangga kita.

Ya Allah, tolong kabulkanlah permohonan hamba. Hamba hanya ingin memberikan kebahagiaan buat keluarga hamba dengan hadirnya “sang buah hati”. Hamba sangat merindukan saat-saat itu, ya Allah. Semoga Engkau berkenan mengabulkan permohonan hambaMu yang hina dina ini. Aminnn...

Readmore.....