Jumat, 13 November 2009

Ayah..Anakmu Rindu ....

20 April 2006 menjadi hari yang tak pernah terlupakan olehku. Di hari itulah aku kehilangan sosok seorang ayah yang selama ini menjadi pelindungku.. Tubuhnya yang pendek tapi kekar itu selalu menyediakan ruang buatku untuk bersandar dan menumpahkan segala keluh kesahku. Cara ketawanya yang sangat khas di telingaku selalu menghiasi hari-hariku..Ayah, aku rindu semua yang ada padamu..
Kurang lebih setahun sebelum hari itu, terjadi musibah pada ayahku..Di pagi buta tiba-tiba beliau berteriak memanggil namaku, setelah aku lihat ternyata tubuh ayah sudah tidak berfungsi separo. Tiba-tiba kekuatan anggota gerak tubuhnya yang sebelah kanan menjadi lumpuh. Tahu hal itu, akupun menjadi panik. Lalu aku panggil seorang mantri desa. Dan sungguh di luar dugaan, ternyata ayahku terserang stroke. Sebenarnya ayah di suruh opname. Tapi ayah tidak mau. Dalam kondisi sakit seperti itu ayah masih memikirkan biaya. Beliau takut menyusahkan keluarganya bila harus opname. Akhirnya, kami pun mengalah dan memutuskan agar ayah dirawat jalan saja. Tentunya dengan pengobatan rutin dan terapi yang harus rutin juga untuk dijalani.
Sungguh, sejak saat itulah aku merasa kehilangan sesuatu yang berharga. Keceriaan ayah tidak pernah lagi kulihat. Bahkan 21 hari pasca serangan stroke itu ayah hanya bisa berbaring di tempat tidur. Untuk melakukan segala aktivitasnya ayah selalu memerlukan bantuan kami. Aku benar-benar tak tega melihat kondisi ayah seperti itu. Apalagi ingatan ayah sempat terganggu.. Bukan gila yang aku maksud disini, tapi beliau sempat lupa pada aku yang notabene adalah anaknya. Setiap kali aku menyuapinya untuk makan, aku selalu ditanya, “ kowe ki sapa???? “.. Astaghfirllah..ayah tak mengenaliku. Aku dan ibu hanya bisa bersabar merawat ayah. Setiap kai ibu berangkat bekerja, akulah yang menggantikan tugas ibu untuk merawat ayah. Syukurlah, hal itu tidak berlangsug lama. Lama-lama ingatan ayah mulai pulih, dan semangatnya mulai tumbuh lagi. Terapi pun dijalankan dengan rutin. Ayah mulai sudah bisa menggerakkan mulutnya yang sempat “perot” (kalau dalam bahasa Jawa). Beliau juga mulai sudah bisa menggerakkan jari jemarinya yang dulu kaku. Kaki dan tangannya sudah mulai pulih, meskipun serangan stroke itu tetap saja meninggalkan cacat pada ayahku. Beliau jalan dengan timpang. Sungguh, hatiku tak kuasa melihatnya.Namun, semangat ayah untuk bisa sembuh selalu menjadi cambuk bagi diriku sendiri. Di saat kondisi seperti itulah, rasa sayang ini pada ayah terlihat semakin nyata.
Kondisi ini berjalan selama lebih kurang 1 tahun. Selama ini ayah selalu memaksakan diri untuk membantu perekonomian keluarga. Sifat aslinya yang pekerja keras tak bisa tinggal diam melihat anak-istrinya yang bekerja. Beliau selalu menangis saat melihat kami mau berangkat kerja. Dalam hati, tanggungjawab ayah tak kan pernah putus meskipun sekarang beliau sudah tidak bisa bekerja seperti dulu lagi. Ayah selalu terbebani dengan pikiran bahwa kepala keluargalah yang seharusnya wajib mencari nafkah buat keluarga, bukan anak ataupun istrinya. Ayah, sungguh..aku sangat malu padamu.. Aku belum bisa membahagiakanmu, dan engkau sendiri dalam kondisi sakit seperti ini masih saja memikirkan kami.
Ayah benar-benar tidak mau tinggal diam. Setiap hari ayah membuat tahu dan tempe bacem untuk disetor-setorkan kepada tetangga yang jualan makanan. Dengan sisa-sisa tenaganya yang tak seberapa, ayah semangat mencari nafkah buat kami, meskipun itu hanya menjual tahu atau tempe bacem. Ayah, sungguh mulia hatimu.. Tak kan pernah lelah hati ini mengenangmu. Dengan berjalan tertatih, engkau setorkan dagangan itu ke tempat tetangga. Sungguh aku benar-benar tak tega.. tapi setiap kali aku berusaha membantumu, engkau selalu menolak, dan selau bilang kalo itu adalah tanggungjawabmu.
Kami sekeluarga cukup gembira dengan perkembangan ayah. Ayah tak lagi kambuh dan beliau bisa mengerjakan pekerjaan rumah tangga, meskipun sebenarnya aku dan ibu sudah melarangnya agar tidak melakukan pekerjaan itu. Tapi tetap saja ayah bersikeras. Setiap kali kami pulang kerja, kondisi rumah sudah rapi oleh sentuhan tangan ayah..Kami sangat berharap agar ayah bisa segera pulih total dan melakukan aktivitasnya kembali sebagai seorang kepala keluarga.
Namun, kebahagiaan kami tak berlangsung lama. Singkat cerita ayah kembali terserang stroke untuk yang kedua kalinya. Tiba-tiba ayah cegukan terus-menerus. Akhirnya ibu membawa ayah ke puskesmas. Sepulang kerja aku begitu kaget mendapati kamar ayah telah kosong. Lalu ada tetangga yang memberitahuku kalau ayah baru saja dibawa ke Puskesmas. Becak yang mengantar ayah dan ibu tadi disuruh balik menjemputku. Tak karuan perasaanku waktu itu, pikiranku sudah “ngalor-ngidul” ga karuan. Ya Allah, ada apa lagi dengan ayah???
Sesampainya di Puskesmas, aku begitu kaget melihat kondisi ayah yang sudah sangat parah..Mulutnya mulai “perot” lagi. Dan tanggannya sudah kaku terlipat di dada dan tidak mau diluruskan. Kontan saja aku langsung menangis. Ku lihat ayah juga menangis. Lalu dengan nada yang ga jelas beliau berkata padaku, “ Nduk, gek pak’e dikon mondok..” Aku mencoba membesarkan hati ayah, kalau ga bakaln terjadi apa-apa dengan beliau. Tapi tetap saja, dalam kondisi seperti itu ayah masih memikirkan biaya. Tidak berapa lama, para tetanggaku datang menjenguk. Kondisi ayah semakin parah saja. Akhirnya pukul 11.00 malam, dokter menyerah dan menyarankan agar ayah di rujuk ke Rumah sakit yang mempunyai peralatan medis yang lebih lengkap. Akhirnya ayah dirujuk ke RS. PKU Muhammadiyah Surakarta. Selama dalam perjalanan ayah selalu meneteskan air mata. Entah apa artinya semua itu. Apakah ayah menangis karena rasa sakit yang dirasakannya ataukah ayah menangis karena memikirkan nasib kami, dan ikut bersedih melihat kami menagis. Ayah langsung masuk ke ruang ICU. Aku hanya bisa melihat dari jendela kaca yang ada di sebelah ruangan ayah ketika para tenaga medis memasangkan beberapa alat yang aku sendiri tidak tahu apa itu namanya. Ada infus, alat monitor jantung, selang oksigen, kateter beserta urine bag nya.. Ah.., aku sungguh tak tega melihat tubuh ayah dibebani dengan berbagai alat seperti itu. Tak berapa lama, keluarga diijinkan untuk menunggu, tapi hanya untuk 1 orang. Akhirnya selama ayah dirawat di Rumah Sakit, aku dan ibulah yang gantian menunggu ayah. Hari pertama, kulihat ayah masih bisa membuka matanya. Dan kulihat pula beliau sering meneteskan air matanya. Sambil memandang iba ke arahku. Aku pun tak kuasa menahan jatuhnya bulir bening ini di kedua pipiku. Setiap kali tenaga medis menyuntikkan obat-obatan ke tubuh ayah, aku ikut merasakan nyeri di sekujur tubuhku. Aku ikut merasakan penderitaan ayah.
Hari berikutnya, kulihat tidak ada perubahan pada kondisi kesehatan ayah, bahkan semakin buruk. Mata ayah sudah tidak mau terbuka lagi. Aku semakin sedih melihat kondisi ayah seperti ini. Setiap kali aku yang menunggui beliau, selalu aku lantunkan ayat suci di dekat beliau. Sambil sesekali aku mengusap dadanya. Jika kuperlakukan seperti itu, ayah meneteskan air mata dalam kondisi mata tetap terpejam.Ya Allah, hamba tidak kuat melihat ayah menderita seperti ini. Saat ayah sakit, aku dan ibu terpaksa libur kerja. Aku tidak peduli apakah aku akan dikeluarkan dari pekerjaanku gara-gara aku sering bolos atau tidak. Tapi untunglah supervisorku memberikan dispensasi padaku. Setiap hari aku pantau perkembangan ayah, dan semakin hari bukannya semakin sembuh, tapi kondisi ayah semakin buruk. Pada hari ketiga, Ayah sempat muntah darah. Dan dokter bilang bahwa pembuluh darah di lambung dan otak ayah sudah pecah. Makanya ayah muntah darah dan mengeluarkan darah dari hidung.. Astaghfirullah..benar-benar sudah tidak ada harapan. Tapi selama aku melihat tubuh ayah yang terbujur lemah di atas ranjang besi itu, aku selalu berharap ada mu’jizat yang akan membawa kesembuhan buat ayah. Waktu itu tensi ayah mencapai 220/160 mmHg.. sungguh di atas tensi normal. Aku juga heran kenapa ayah masih bisa bertahan dengan tekanan darah yang begitu tinggi. Atau kah karena ayah masih semangat untuk bisa sembuh??? Aku tidak tahu pasti, yang jelas saat itu aku hanya berharap agar Allah memberikan yang terbaik buat ayah.
Hari berikutnya, yang tak pernah aku sangka kalau itu hari terakhir aku bertemu dengan ayah. Kondisi ayah sudah sangat buruk. Bahkan saat para perawat melintas di dekatku, mereka selalu bilang, “ yang sabar ya mbak.. doakan aj yang terbaik buat bapak..” Aku tidak tahu apakah arti dari ucapan mereka. Sampai akhirnya aku dengar saat dokter bilang kepada kami sekeluarga bahwa sudah tidak ada harapan lagi. Bahkan infus yang dimasukkan ke tubuh ayah pun sudah tidak dapat mengalir dengan lancar lagi. Akibatnya, tangan ayah bengkak. Kalaupun dipaksakan juga tidak ada gunanya. Akhirnya, setelah keluarga berunding, diputuskan bahwa tidak akan ada tindakan medis lagi buat ayah. Tubuhku terasa lemas sekali saat itu. Aku semakin tidak tega melihat kondisi ayah. Selalu kubisikkan Asma’ Allah di dekat telinga ayah, “Allah.. Allah..Allah...” Berharap agar ayah bisa selalu ingat Allah di saat-saat sulitnya. Sehari sebelumnya ayah masih berusaha menirukan ucapanku, meskipun dengan suara yang rancau dan sangat tidak jelas. Tapi sekarang, ayah cuma bisa meneteskan air mata sambil sedikit mengerang. Aku tak tahu apa arti erangan ayah itu. Anehnya, aku mulai mencium bau anyir di dalam kamar ayah. Entahlah, apakah itu ada hubungannya dengan ayah. Yang jelas bau itu sangat asing di hidungku. Siangnya, aku dan mbakku pulang untuk sekedar mengambil baju. Pas jam 12.00 aku mendapat telepon dari pamanku yang kebetulan saat itu juga menunggu ayah di Rumah sakit. Aku disuruh segera balik ke Rumah sakit, tanpa memberikan keterangan apapun. Hatiku berdebar-debar tidak karuan. Lalu dengan memacu sepeda motornya, mbakku ngebut berusaha biar segera sampai di Rumah sakit. Aku bertanya-tanya apa yang terjadi pada ayah. Sempat aku berpikir bahwa ayah.....??? (Ah, tak sanggup aku membayangkan hal ini..)
Benar saja dugaan yang belum sempat aku utarakan tadi, sesampainya di Rumah Sakit aku disambut oleh tangisan ibu. Aku sudah bisa menebak apa yang terjadi. Tanpa menghiraukan keluargaku yang ada di luar kamar, aku langsung masuk ke kamar ayah. Ternyata ayah sudah dipindahkan ke ruangan lain. Aku dekati tubuh ayah yang sudah terbujur tertutup selimut rumah sakit. Kubuka perlahan-lahan dan ku coba kuatkan hati untuk melihat jasad ayah. Aku lihat senyum damai di wajah ayah. Mungkin ayah sudah lega bisa melepaskan semua beban penderitaanya selama di dunia ini. Aku sentuh tubuh ayah, dan masih terasa hangat. Lalu aku kecup kening ayah sebagai penghormatan terakhirku pada beliau. Aku tak kuasa membendung air mata ini. Sambil terus menangis, aku peluk tubuh ayah..Tak berapa lama, mbakku menyusulku. Dia juga tak kalah sedihnya denganku. Dia menangis di tubuh ayah. Ya Allah, saat itu aku benar-benar tak percaya kalau ayah sudah tiada. Aku masih membutuhkannya. Aku masih ingin ditungguinya, tapi kenapa ayah malah pergi meninggalkan kami. Aku sangat sayang ayah.. Sampai sekarangpun aku tak percaya bila ayah sudah tidak ada. Ayah akan selalu ada di hatiku. Kharismanya akan selalu terpatri dalam ingatanku. Aku merindukanmu, Ayah...
Saat aku menikah, aku tak bisa menyembunyikan kesedihan. Tak kuasa kubendung air mata ini. Dulu, aku sangat ingin saat nikah aku bisa ditunggui oleh keluargaku, terutama ayah, ibu, dan nenek. Tapi sekarang kenyataanya lain. Tapi aku yakin ayah juga bisa merasakan kebahagiaanku saat itu. Seperti biasanya, saat aku dalam keadaan sedih, ayah selalu datang dalam mimpiku..Entahlah, aku sendiri juga bingung. Mungkin karena kekuatan kasih sayang kami.
Tiga tahun lebih ayah meninggalkan kami, tapi kenangan bersama ayah sepertinya masih segar dalam ingatanku. Sedih rasanya bila mengingat beliau. Kenapa Allah begitu cepat memanggil ayah, padahal aku masih membutuhkan beliau.. Tapi aku yakin bahwa semua ini adalah yang terbaik buat ayah.. Hanya do’a yang sanggup ananda berikan pada ayah.. Maafkan ananda yang belum sempat membalas jasa-jasa ayah.. Ananda merindukanmu, Ayah... Semoga engkau selalu damai di sisi Allah. Suatu saat nanti, kami pasti akan menyusulmu, Ayah..Semoga kelak kita sekeluarga bisa berkumpul dalam naungan surga Illahi..amin....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar