Rabu, 11 November 2009

Tahukah engkau, Suamiku...???

Mungkin memang terlalu berlebihan jika aku menginginkan bisa segera memperoleh sang buah hati dalam usia pernikahanku yang masih sangat muda ini..Aku baru menikah tanggal 11 Agustus 2009 kemarin..tapi naluri keibuanku tak bisa membiarkan hatiku tenang selama aku belum mendapatkan apa yang aku inginkan..Dulu sebelum menikah, pikiranku tak bisa tenang sebelum aku mendapatkan “haid”..tapi sekarang, aku bisa-bisa menangis hanya karena aku masih saja “haid”. Memang sebuah kondisi yang bertolak belakang.

Setiap kali “tamu” bulananku datang, aku selalu mencoba menghibur diri dengan mengatakan, “Tidak apa-apa..mungkin Allah masih menyuruh kita untuk tetap bersabar..”. Tapi siapa yang mengira kalau hatiku benar- benar sedih..Sering aku menangis diam-diam tanpa sepengetahuan suamiku. Ada bermacam-macam perasaan bercampur aduk dalam pikiranku..Aku takut dicap “mandul”. Aku jadi teringat tentang perdebatanku dengan suamiku sebelum kami menikah dulu. Kami memperdebatkan soal poligami. Suamiku bilang kalau poligami itu sah-sah saja selama yang bersangkutan mampu, dan dibolehkan pula jika ada alasan yang kuat, salah satunya tidak mendapat keturunan dari istri pertama. Jika dalam kondisi seperti itu, suami diperbolehkan menikah lagi dan istri pertama mau tidak mau harus menyetujui. Berbeda dengan pendapatku, apapun alasannya, aku tetap tidak setuju dengan poligami. Sungguh sebuah sunnah Rasul yang amat sulit diterima oleh kaum hawa, meskipun ada jaminan surga bagi wanita yang mau dipoligami. Ya Allah, aku sungguh tak ingin hal itu terjadi padaku. Aku terlalu menyayangi suamiku, dan aku tidak rela jika harus berbagi dengan wanita lain. Aku tidak mau karena aku tidak bisa memberikan keturunan lantas suamiku meninggalkan aku. Aku berharap suatu saat aku bisa memberikan suamiku keturunan.

Sungguh sebuah beban yang sangat berat..Meski aku tahu, perjalanan pernikahanku ini belum seberapa. Masih banyak pasutri di luar sana yang lebih menderita dari kami. Banyak diantara mereka yang sudah menikah selama bertahun-tahun, tapi belum diberi keturunan. Sedangkan kami, baru saja kami mulai babak baru dalam kehidupan kami. Tapi apa salah jika aku sudah menginginkan punya “momongan”. Aku iri dengan teman-temanku yang sudah dipanggil “ibu, bunda, atau umi” oleh anak mereka.

Aku memang cuma wanita biasa yang gampang menitikkan air mata. Aku belum bisa tegar setegar batu karang yang berdiri kokoh di tengah terjangan ombak. Hatiku juga tidak terbuat dari batu sehingga aku bisa menahan segala “pukulan” yang berkecamuk dalam hatiku ini. Tapi aku hanyalah seorang wanita biasa yang bisa menangis dan merasakan sedih.

Buat suamiku, maafkan adik yang belum bisa mencontoh kesabaran mas selama ini. Mas selalu menjadi penyejuk dalam kehidupan adik. Mas selalu sabar dalam kondisi apapun, bahkan dalam kondisi sulit seperti yang mas alami sekarang ini. Satu hal yang paling adik kagumi dalam diri mas, yaitu “kesabaran”. Entah sampai kapan adik harus bisa belajar untuk lebih sabar.

Mungkin benar apa yang suamiku ucapkan, “Allah menganggap kita belum mampu untuk diberi kepercayaan dengan hadirnya sang buah hati”, tapi apakah engkau tahu suamiku, kalau aku sudah begitu mendambakan kehadiran “si kecil” di tengah-tengah keluarga kita? Si kecil yang akan mengusir setiap penat rasa lelah setelah seharian kita bekerja. Si kecil yang akan selalu membangunkan kita dengan tangisannya yang merdu saat ia merasa haus dan meminta susu. Si kecil yang akan selalu membuat kita tertawa melihat segala tingkah laku dia saat dia sudah mulai bisa diajak bercanda. Si kecil yang akan memanggilmu dengan sebutan “ayah” dan “ibu” buatku. Si kecil yang akan mendoakan kita saat kita sudah tua dan mungkin saat kita sudah menghadap Sang Khalik nanti. Aku begitu merindukan kehadiran sosok mungil itu, suamiku. Apakah engkau juga merasakan seperti apa yang aku rasakan ini?? Tapi entah sampai kapan kita harus menunggu, sementara setiap kali ada pertanyaan, “sudah telat berapa bulan?”, hatiku langsung seperti tersayat. Aku menangis dalam hati. Aku bukanlah sosok wanita yang tegar, suamiku.. Hatiku masih terlalu rapuh untuk mendengar semua pertanyaan itu. Ajari aku untuk bisa sabar sepertimu, suamiku. Ajari aku untuk bisa selalu tegar dalam menjalani hidup ini. Aku ingin menjadi batu karang yang kokoh. Bukan menjadi wanita yang cengeng. Aku selalu ingin menjadi wanita satu-satunya yang ada di hati kamu, dan berharap tidak akan pernah ada wanita lain yang mengusik kehidupan rumah tangga kita.

Ya Allah, tolong kabulkanlah permohonan hamba. Hamba hanya ingin memberikan kebahagiaan buat keluarga hamba dengan hadirnya “sang buah hati”. Hamba sangat merindukan saat-saat itu, ya Allah. Semoga Engkau berkenan mengabulkan permohonan hambaMu yang hina dina ini. Aminnn...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar